Sejarah Desa Masaran kiranya tidak akan terlalu jauh lepas dari sejarah Kerajaan Pacangan. Kata
Masaran sendiri berasal dari kata Pasaran/pasar. Dimana pada masa itu, Desa Masaran digambarkan
sebagai pasar besar Kerajaan (tempat berkumpulnya
para saudagar/pedangan). Tidak nampak jelas bagaimana sejarah pasar besar itu,
karena memang Masaran
dan Pacangan menjadi satu kesatuan utuh wilayah Kerajaan. Menurut salah satu
sumber yang telah diwawancarai tetapnya di Dusun Nyantren, Desa Masaran
merupakan salah satu tempat pertapaan Raja Pacangan yakni bernama Abidarba.
Kebanyakan sesepuh Desa yang ditemui lebih paham mengenai sejarah Kejaraan
Pacangan dari pada fokus ke Pasaran/Desa Masaran sendiri. Para sesepuh Desa
lebih tertarik membahas mengenai hubungan antara Pacangan dan Pulau Mandangin.
Pada saat itu Kerajaan Pacangan dipimpin oleh
seorang Raja yang bernama Bidarba, dengan selirnya yang kecantikanya begitu tersohor yakni Ratu
Ragapadmi. Dikarenakan adanya kecemburuan perasaan dan iri akhirnya sang Ratu
pertama memutuskan untuk menyihir kecantikan Ratu Ragapadmi dengan ilmu hitam.
Rencana yang telah dicanangkan oleh sang selir lama sang Raja akhirnya
membuahkan hasil, disekujur tubuh Ratu padmi dipenuhi oleh nanah dan darah yang
berbau tak
sedap hingga Raja bidarba pun tak sampai hati melihatnya.
Untuk menghindari penyebaran berita tersebut
dikalangan masyarakat/rakyat luas akhirnya Raja
Bidarba mengambil inisiatif untuk mengasingkan Ratu Padmi tentunya tanpa
diketahui oleh masyarakat luas. Akhirnya keputusan yang diambil oleh Raja
Abidarba adalah mengutus patih
kepercayaannya Bangsa care
untuk mengasingkan Ragapadmi.
Atas titah sang Raja, Bangsacara akhirnya
mengasingkan Ratu padmi.
Sebagai imbalan dari pengasingan tersebut adalah Bangsacara berhak untuk
menikahi Ratu padmi baik dalam keadaan sembuh atau masih sakit. Meskipun
demikian, dalam hati Bangsacara tentu saja masih ada batas-batas tertentu
antara dia dengan Ragapadmi, dimana bagaimana pun Ragapadmi masih menjadi istri
sah Raja Bidarba.
Akhirnya Bangsacara membawa Ratu Padmi menuju ke
rumah Ibundanya di Tanjung (Desa dekat pantai di Kecamatan Camplong Kabupaten
Sampang). Diperjalanan keadaan Ragapadmi tak kunjung membaik malah tambah
memburuk. Nanah bercampur dengan darah berbau amis selalu keluar dari permukaan
kulit Ragapadmi. Namun, Bangsacara tetap setia menemani Ragapadmi karena titah
sang Raja.
Hari demi hari terus berganti, akhirnya Ragapadmi
dan Bangsacara sampai ditempat tujuan. Ibunda Bangsacara sangat ramah menyambut
anaknya yang membawa seorang perempuan berpenyakit kulit mengeringakan yang
tidak lain adalah Ragapadmi. Ibunda Bangsacara awalnya keberatan, namun setelah
mengetahui bahwasannya
itu adalah sang Ratu, akhirnya ibu Bangsacara menerimanya. Karena kesabaran dan
kesetiaannya Ratu padmi sedikit demi sedikit menaruh hati ke Bangsacara.
Setelah mengasingkan Ratu padmi akhirnya Bangsacara
kembali ke Kerajaan Pacangan. Karena tersebar Desas desus mengenai kondisi Ratu
Padmi dan pernikahan sang Ratu dengan Bangsacara, akhirnya sang Raja Bidarba
memerintahkan Bangsacara untuk mengatakan kepada masyarakat Kerajaan Pacangan
bahwa Raja Bidarba tidak mengasingkan Ragapadmi dan Bangsacara tidak menikah
dengan Ragapadmi. Meskipun hal ini di luar batas kebenaran, demi membela
kehormatan Kerajaan, Bangsacara bersedia melakukan apa yang diperintahkan oleh
Raja dengan mengatakan kepada masyarakat bahwa Ragapadmi hanya sekedar
melakukan semedi di daerah jauh yang sepi dari kerumuanan orang banyak, dan hal
tersebut berdasarkan permintaan Ragapadmi sendiri, sedangkan Bangsacara hanya
bertugas sebagai pengawal sang permaisuri saja. Berkat deklarasi dari
Bangsacara, masyarakat kembali percaya kepada Raja Bidarba dan menyelamatkan kemuliaan
istana.
Bangsacara memperoleh imbalan dari Raja berkat
kesetiaan yang dilakuaknnya kepada Kerajaan dan membela kehormatan Kerajaan
dengan menaikkan peran Bangsa cari
sebagai panglima utama pasukan perang Kerajaan Pacangan dan menggantikan
kedudukan Bangsapatih. Hal ini tentu membuat Bangsapatih geram dengan tindakan
Bangsacara yang semena-semena mengambil pangkat Bangsapatih, padahal pada
kenyataannya Raja Bidarbalah yang memberikan jabatan itu kepada Bangsacara
karena dianggap sebagai oarang yang pantas memimpin pasukan prajurit Pacangan.
Pada suatu hari ketika Bangsacara pulang ke rumah
ibundanya. Tiba-tiba seorang perempuan berparas cantik keluar dari dalam rumah
dan menampakkan senyumnya serta menyambut Bangsacara dengan lembut dan senyuman
yang menawan. Dalam hati Bangsacara berdesis baru kali dia menemukan gadis yang
sangat cantik rupawan.
Bangsacara berkata kepada Ragapadmi : “Permaisuri
menjadi sangat cantik lagi sekarang. Hamba harus membawa Permaisuri kembali ke
istana. Baginda tentu akan senang Permaisuri datang kembali ke sana”. Namun,
Ragapadmi justru menjawab : “ Tidak, Baginda telah memberikan aku kepadamu dan
menyuruhmu menjadikanku sebagai isterimu”.
Mungkin selama ini tanpa disadari, Bangsacara telah
jatuh hati kepada Ragapadmi namun masih di dipendamnya, mengingat Ragapadmi
masih berstatus sebagai isteri Rajanya. Namun dengan jawaban Ragapadmi seperti
itu akhirnya keraguannya mencair. Dan lalu keduanya memutuskan menikah dan
hidup bahagia disalah satu Desa di Pulau Mandangin.
Karena Bangsacara lama tidak menghadap, Rajapun yang
menjadi khawatir dan lantas mengutus Bangsapati ke rumah Bangsacara. Bangsapati
terkejut melihat Ragapadmi yang telah cantik kembali bahkan lebih cantik dari
kecantikan semula. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa Bangsacara telah
menikah dengan Ragapadmi.
Karena merasa iri dengan Bangsacara, akhirnya
Bangsapati melakukan segala cara untuk membunuh patih Bangsacara. Salah satunya
adalah memfitnah Raja bahwasana sang Raja memerintahkannya (Bangsapati) untuk
membunuh patih Bangsacara.
Akhirnya diajaklah Bangsacara ketepi pantau oleh
Bangsapati untuk dibunuh, namun karena kehebatannya, patih Bangsacara sulit
untuk dibunuh.
Mengingat
itu titah sang Raja, akhirnya Bangsacara berkata: tidak ada manusia yang tidak
bisa mati, semua manusia pasti mati. Lalu patih Bangsacara tersebut
memperlihatkan senjatanya (gaman). Dan berkata;
“kalau kalian ingin membunuhku pakalah senjata
(gaman) ku ini”
Namun disela-sela proses eksekusi tersebut terjadi
perdebatan karena patih Bangsapati berubah fikiran. Tetapi karena kesetiaan Bangsacara
kepada sang Raja akhirnya Bangsacara membuka senjatanya (gaman). Dan akhirnya
secara tidak sengaja Bangsacara tertusuk senjatanya sendiri dan terapung di
lautan.
Setelah Bangsacara meninggal akhirnya patih
Bangsapati membawa lari Ratu patmi dengan menyebrangi lautan untuk dibawa ke
Kerajaan. Di pertengahan jalan Bangsapati akhirnya mati karena memiliki fikiran
kotor kepada Ratu Padmi, jasadnya ditemukan terapung di tengah lautan, namun
jasad Ratu padmi hilang tidak ditemukan.
Suatu hari, seorang pedagang yang juga seorang
saudagar kelapa menemukan mayat terapung yakni sang patih Bangsacara. Terkejut
dengan jasat yang ia temukan, kemudian sang saudagar bimbang antara
menguburkannya atau menjual dagangannya. Karena tidak mempunyai biaya serta
dagangnnya belum laku akhirnya sang pedagang memutuskan untuk menjual kelapanya terlebih
dahulu tanpa mengangkut
mayat tersebut sembari berjanji kalau dagangnnya laku dia akan kembali dan
menguburkan mayat tersebut. Sampai
di pasar akhirnya batok kelapanya
laku semua, pedagang kembali untuk menguburkan mayat Bangsacara.
Dalam perjalanan lanjutannya ke Kerajaan Pacangan,
sang Saudagar lalu bercerita kepada sang Raja tentang mayat yang telah ia
kubur. Betapa terkejutnya sang Raja bahwa mayat itu adalah mayat Bangsacara.
Dimana sampai sekarang air tempat matinya sang patih tersebut sangat jernih
hingga meskipun jarum diceburkan ke air tersebur jarum tetap terlihat.
Karena Raja Abidarba tidak percaya dengan berita
tersebut maka sang Raja pergi ke tempat tinggal sang patih Bangsacara dan Ratu
Patmi. Disana karena mengetahi patih bangsacara tewas akhirnya sang Raja
Abidarba memutuskan menancapkan tongkatnya dan akhirnya mengenggelamkan dirinya
lautan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar